Analisis Siklus Perulangan Litologi pada Formasi Sambipitu di Sungai Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, DIY

Please download to get full document.

View again

of 17
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Similar Documents
Information Report
Category:

Social Media

Published:

Views: 0 | Pages: 17

Extension: PDF | Download: 0

Share
Description
ABSTRAK Daerah penelitian terletak di Sungai Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan fisiografi dan stratigrafi regional, termasuk ke dalam fisiografi Zona Pegunungan Selatan yang disusun oleh
Tags
Transcript
  Prosiding Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi XIV Tahun 2019 (ReTII)  November 2019, pp. 359~375ISSN: 1907-5995    359  Prosiding homepage : http://journal.itny.ac.id/index.php/ReTII  Analisis Siklus Perulangan Litologi pada Formasi Sambipitudi Sungai Ngalang, Kecamatan Gedangsari,Kabupaten Gunung Kidul, DIY Al Hussein Flowers Rizqi 1 , Hendri Tri Purnomo 2 1 Staf Pengajar Program Studi Teknik Geologi, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta 2 Mahasiswa Program Studi Teknik Geologi, Institut Teknologi Nasional Yogyakartakorespondensi : alhussein@sttnas.ac.id ABSTRAK  Daerah penelitian terletak di Sungai Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, DaerahIstimewa Yogyakarta. Berdasarkan fisiografi dan stratigrafi regional, termasuk ke dalam fisiografi ZonaPegunungan Selatan yang disusun oleh litologi batupasir karbonatan dengan sisipan batulempung FormasiSambipitu Atas. Proses erosi yang intensif menyebabkan batuan tersingkap di permukaan dengan baik. Fase pengendapan pada Formasi Sambipitu memiliki pola yang khas dan mempunyai keterkaitan dengan litologisebelumnya sehingga menarik untuk dikaji posisi stratigrafinya dan pola perulangan litologinyamenggunakan metode statistika (  Marcov Chain ). Penelitian ini ditunjukkan untuk melakukan analisis polasedimentasi pada Formasi Sambipitu, serta diharapkan dapat membantu dalam memprediksi danmenginterpretasi keterkaitan kemunculan litologi selanjutnya pada masing-masing siklus perulangan litologi.Metode penelitian meliputi pembuatan stratigrafi terukur di lapangan. Hasil dari analisis  Markov Chain ,litologi pada formasi sambipitu mempunyai pola transisi yang sifatnya tidak   random . Hasil perhitunganstatistika menunjukan bahwa nilai perhitungan lebih besar dari nilai tabel Chi-kuadrat (333.9 >34.38)sehingga komponen Ho ditolak. Kata kunci :  Sungai Ngalang, Sambipitu, Marcov Chain, Sedimentasi, Pola Perulangan  ABSTRACT  The Research area is located on Ngalang river, Gedangsari sub-district, Gunung Kidul Regency, Special  Region of Yogyakarta. Physiographically and stratigraphically, research area is included in Southern Mountain Zone, composed by lithology of Sambipitu Calcareous Sandstone.. The intensive erosion processcaused rocks exposed to the surfacel, one of the study area is in the village section of Ngalang in theSambambitu formation. The depositional process phase in the Sambipitu Formation has a Uniqal pattern and relevance to previous lithology so it was interesting to examine the stratigraphic position and its lithological repetition pattern using the statistical method (Marcov Chain). This research was purpose to analyze the sedimentation pattern in the sambipitu formation, and it expected to be able to assist in predicting and interpreting the relevance of subsequent lithology appearances in each unit of lithology  cy cle. The researchmethod include in making measured stratigraphy in the field. The results of the Markov chain analysis,lithology in the Sambipitu Formation has a non-random transition pattern. The results of statistical calculation show that the calculation value is greater than the Chi-square table value (333.9> 34.38) so that the Ho component is rejected   Keywords:  Ngalang River, Sambipitu, Marcov Chain, Sedimentation, Repetition Pattern 1. PENDAHULUAN Formasi Sambipitu yang termasuk dalam ser i stratigrafi Pegunungan Selatan memiliki sebaran yangcukup luas di kaki Pegunungan Baturagung. Peneliti terdahulu seperti van Bemmelen (1949), Bothe (1929)dan Surono, dkk. (1992) telah mengkaji aspek stratigrafi dari Formasi Sambipitu. Namun sejauh ini masih belum ada yang melakukan penelitian dari sisi statistika terkait pola perulangan stratigrafinya khususnyamenggunakan metode  Markov Chain.  Rantai Marcov  (Markov Chain)  merupakan salah satu metode dalamilmu terapan statistika yang dapat digunakan dalam melakukan analisis pola perulangan litologi khusunya pada Formasi Sambipitu daerah Sungai Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, ProvinsiDaerah Istimewa Yoyakarta.Urutan litologi pada Formasi Sambipitu sangatlah menarik untuk dikaji, dikarenakan formasi inimerupakan percampuran antara endapan laut dangkal dengan endapan laut dalam. Litologi yang berkembangmembentuk suatu pengendapan horisontal batuan yang dapat membantu menganalisis  markov chain  dalammenentukan dan menunjukkan suatu pola sedimentasi atau proses siklus batuan. Berdasarkan van Bemmelen    ISSN: 1907-5995ReTII November 2019 : 359 – 375360(1949) pada (Gambar 1) termasuk ke dalam fisiografi Zona Pegunungan Selatan yang ada pada sepanjang bagian selatan Pulau Jawa yang tepatnya berada di daerah Dataran Tinggi Wonosari.Gambar 1. Fisiografi daerah penelitian (Van Bemmelen, 1949).Lokasi penelitian ditunjukkan dengan kotak kuning pada fisiografi Pulau Jawa.Berdasarkan Peta Geologi Lembar Surakarta - Giritontro (Surono dkk, 1992), daerah penelitiantermasuk ke dalam dataran tinggi Wonosari yang secara stratigrafi termasuk ke dalam Formasi Sambipitudengan batuan penyusun formasi di bagian bawah terdiri dari batupasir kasar, ke atas berangsur menjadi batupasir halus yang berselang-seling dengan serpih, batulanau dan batulempung. Pada bagian bawahkelompok batuan ini tidak mengandung bahan karbonat. Namun di bagian atasnya, terutama batupasir,mengandung bahan karbonat dengan tebal 230 meter. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui pola atau siklus litologi pada daerah penelitian sehingga dapat mengkaitkan kemunculan suatulitologi dengan litologi sebelumnya dan menentukan probabilitas prediksi litologi selanjutnya. Pada perkembangannya hasil studi ini dapat digunakan sebagai kontribusi pemahaman mengenai pola dinamikasedimentasi di daerah penelitian. 2. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini secara garis besar dilakukan dalam tiga tahapan (Gambar 2), yaitu tahap persiapan,tahap analisis data, tahap evaluasi data dan penyusunan laporan1. Tahap PersiapanKegiatan pada tahap ini meliputi pengumpulan semua hasil studi dan penelitian terkait geologidaerah penelitian dari peneliti terdahulu berdasarkan beberapa literatur mengenai tinjauan geologiregional Pegunungan Selatan dan terutama di daerah penelitian (Formasi Sambipitu). Pada tahap ini juga termasuk pengambilan data lapangan yang dilakukan dengan mengamati langsung beberapaaspek di lapangan, mulai dari data kedudukan batuan, ketebalan lapisan batuan, dan deskripsi batuan.Setelah semua data diambil langkah selanjutnya adalah pembuatan kolom stratigrafi terukur  berdasarkan data lapangan yang sudah di peroleh.2. Tahap Analisis DataKegiatan pada tahap analisis data meliputi analisis rantai markov pada stratigrafi terukur Formasi Sambipitu, berupa matriks transisi observasi, matriks probabilitas transisi observasi, rantaimarkov, matriks probabilitas transisi frekuensi, matriks frekuensi transisi random yang diharapkandan perhitungan tabel chi kuadrat.3. Tahap Penyusunan LaporanPada tahapan ini meliputi proses evaluasi data pengolahan data serta kebenaran data lapangan.yang akan dijadikan artikel ilmiah secara sistematis sehingga dapat terlaporkan secara detail danmendekati kebenaran yang diperoleh dalam pengambilan data lapangan yang didapatkan secaralangsung (primer). Hasilnya dapat menjadi rujukan atau pun pedoman dalam proses analisis yang  ReTII ISSN: 1907-5995    Analisis Siklus Perulangan Litologi pada Formasi Sambipitu di Sungai Ngalang (Al Hussein Flowers Rizqi) 361ada di masa mendatang serta bermanfaat bagi masyarakat sekitar secara umumnya. Data hasilobservasi lapangan dan analisis kemudian dilakukan penarikan kesimpulan pada stratigrafi terukur Formasi Sambipitu berupa siklus liologi, keterkaitan kemunculan litologi dan prediksi litologi untuk menentukan pola transisi pada Formasi Sambipitu memiliki pola atau tidak memiliki pola  (Random) .Gambar 2. Diagram alur metode penelitian 3. HASIL DAN ANALISIS3.1. Lokasi Pengambilan Data Lokasi pengambilan data di Sungai Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul,tepatnya di Sungai Ngalang (Gambar 3) pada Formasi Sambipitu sebanyak 5 lokasi pengamatan yaituLP1, LP2, LP3, LP4 dan LP5 yang masing-masing lokasi mewakili setiap perubahan litologi. Data yangdiambil pada Sungai Ngalang memiliki panjang 37.9 meter dengan arah kelurusan sungai yang relatif sama ke arah selatan (homoklin). 3.2. Urutan Litologi Berdasarkan hasil pengambilan data di lokasi penelitian yang meliputi kedudukan batuan, teballapisan batuan dan deskripsi batuan, diperoleh kolom stratigrafi terukur Formasi Sambipitu pada jalur  Ngalang Bawah (Gambar 5). Panjang kolom stratigrafi Formasi Sambipitu yang diukur memilikiketebalan 31.5 meter dan di ambil pada ketebalan 38 meter sampai 69.5 meter. Litologi penyusun bagian bawah berupa batupasir karbonatan,  Calcarenite , kemudian ke arah atas berubah menjadi breksiTahapPersiapana. Pengumpulan dataSekunder  b. Pengumpulan data teoriTerkaitc. Pembuatan peta lapangan(topografi)d. Pengambilan data lapangana. Peta geologi dangeomorfologi regional b. Tinjauan geologi regionalc. Peta lapangan (topografi)d. Kedudukan , Ketebalan,deskripsi batuan dan kolomstratigrafie. Peta lintasanTahapAnalisisDataa. Analisis rantai  Markov  a. Matriks transisi observasi b. Matriks probabilitastransisi observasic. Rantai  markov d. Matriks probabilitastransisi frekuensie. Matriks frekuensi transisirandom yang diharapkanf. Tabel chi kuadratTahapPenyusunanLaporanEvaluasi Pengolahan Data   Pola atau sikluslitologi   Keterkaitankemunculan antar litologi   Probabilitas prediksilitologi selanjutnya Tahap Proses Hasil    ISSN: 1907-5995ReTII November 2019 : 359 – 375362 polimik berselingan dengan  Shale  dan batuan atas lagi berupa perselingan  Calsilutite  dengan batulanaukarbonatan.Pada urutan litologi ini breksi polimik dimasukkan ke dalam Formasi Sambipitu karenamempunyai komposisi yang dominan karbonatan. Perulangan antara batupasir karbonatan dan Calcarenite  pada bagian bawah sampai tengah. Bagian atas Formasi Sambipitu ini juga mengalami perulangan litologi antara breksi polimik dengan  Shale  dan antara  Calsilutite  dengan batulanaukarbonatan. Analisis dilakukan pada seluruh kolom stratigrafi Formasi Sambipitu yang diukur atausama dengan 31.5 meter. Kolom stratigrafi terukur tersebut kemudian disusun dalam suatu urutanlitologi pada setiap interval 0.2 meter atau 20 cm pada kolom stratigrafi lapisan batuan (Gambar 3)untuk kemudian dilakukan analisa Matriks Transisi Observasi daerah penelitian, Matriks ProbabilitasTransisi Observasi, Rantai Markov, matriks probabilitas transisi frekuensi daerah penelitian dan matrikstransisi random yang diharapkan kemudian diperoleh pola kemunculan antar litologi.Keterangan :Gambar 3. Susunan litologi daerah penelitian 3.3 Matriks Transisi Observasi dan Probabilitas Urutan litologi yang sudah disusun kemudian dimasukkan ke dalam suatu matriks atau tabel (Tabel 1 kiri)yang menunjukkan angka atau nilai probabilitas kemunculan masing-masing litologi.Tabel 1. Matriks transisi observasi daerah penelitian (kiri) & Matriks probabilitas transisi observasi (kanan)  ReTII ISSN: 1907-5995    Analisis Siklus Perulangan Litologi pada Formasi Sambipitu di Sungai Ngalang (Al Hussein Flowers Rizqi) 363Berdasarkan matriks probabilitas transisi observasi dapat menunjukkan nilai peluang kemunculan suatulitologi dengan litologi sebelumnya (Tabel 1 kanan). Nilai probabilitas ini nantinya dapat digunakan sebagai prediksi kemunculan litologi selanjutnya, berdasarkan nilai probabilitas terbesar. Berdasarkan nilai di atasdapat diketahui bahwa kemunculan litologi pada 0,2 meter selanjutnya adalah :  Calcareous Sandstone menjadi  Calcareous Sandstone  (0.7636),  Calcarenite  menjadi  Calcarenite  (0.8),  Shale  menjadi  Shale (0.6667),  Polimic Breccia  menjadi  Polimic Breccia  (0.8571),  Calcareous Siltstone  menjadi  CalcareousSiltstone  (0.75) dan  Calsilutite  menjadi  Calcareous Sandstone  (1). 3.4 Rantai markov  Nilai-nilai probabilitas yang tersebut di atas, disusun dalam bentuk diagram yang saling berhubungan,disebut rantai markov (Gambar 4)Gambar 4. Rantai markov daerah penelitianDari hasil analisa rantai markov, dijumpai 4 siklus batuan, yaitu :1. A ( Calcareous Sandstone ) – B( Calcarenite ) – C ( Shale ) – A ( CalcareousSandstone )2. A ( Calcareous Sandstone ) – B( Calcarenite ) – D (  Polimic Breccia ) - A( Calcareous Sandstone )3. A ( Calcareous Sandstone ) – B( Calcarenite ) – D (  Polimic Breccia ) - C( Shale ) - A ( Calcareous Sandstone )4. A ( Calcareous Sandstone ) – B( Calcarenite ) – E ( Calcareous Siltstone ) – F( Calsilutite ) - A ( Calcareous Sandstone )Data siklus yang diperoleh melalui pengambilan data lapangan kemudian dilakukan analisis  Markov  dandisajikan dalam bentuk rantai  Markov Chain  daerah penelitian seperti pada (Gambar 2). Berdasarkan hasilanalisis rantai Markov kemudian dikaitkan dengan data hasil penelitian yang sudah dilakukan berupa analisislingkungan pengendapan (Gambar 6) menggunakan klasifikasi fosil bentonik (Tipsword,1966) namun jugadijumpai ketidaksesuaian dengan data fosil bentonik karena keterbatasan jumlah pengambilan sampel fosildan data stratigrafi yang ada merupakan sampel sebagian, maka diperoleh 4 siklus, yang masing-masingdapat diinterpretasikan secara umum diendapkan pada lingkungan transisi - Neritik Atas - Bathyal Atas:1.  Siklus I  :  A (Calcareous Sandstone) – B (Calcarenite) – C (Shale) – A (Calcareous Sandstone) Pada siklus pertama litologi yang terbentuk pertama pada bagian bawah adalah  (CalcareousSandstone)  material klastika yang berasal dari darat dengan pengaruh karbonat yang terombak dari batuan yang sudah tebentuk sebelumnya dan diendapkan pada lingkungan ( offshore transition) transisi-laut dangkal (Neritik Dalam), kemudian terjadi fase transgresi atau naiknya muka air lautsehingga lingkungan transisi berubah menjadi genang laut yang lebih dalam sehingga diatasnyaterendapkan  Calcarenite . Proses transgresi terus terjadi sehingga terbentuk   Shale  pada lingkunganyang lebih dalam lagi (Neritik Tengah), kemudian fase transgresi berhenti dan terjadi fase penurunan muka air laut sehingga lingkungan laut berubah menjadi daerah transisi-darat (regresi)kemudian terbentuk   Calcareous Sandstone  yang menunjukkan lingkungan pengendapan  offshoretransition .2.  Siklus II  :  A (Calcareous Sandstone) – B (Calcarenite) – D (Polimic Breccia) - A (CalcareousSandstone) Pada siklus kedua litologi yang terbentuk pertama pada bagian bawah adalah  (CalcareousSandstone)  material klastika yang berasal dari darat dengan pengaruh karbonat yang terombak dari batuan yang sudah tebentuk sebelumnya dan diendapkan pada lingkungan ( offshore transition) transisi-laut dangkal (Neritik Dalam), kemudian terjadi fase transgresi atau naiknya muka air lautsehingga lingkungan transisi berubah menjadi genang laut yang lebih dalam sehingga diatasnyaterendapkan  Calcarenite . Proses transgresi berhenti dan berubah menjadi fase penurunan muka air 
Recommended
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x