HUBUNGAN PERAN TENAGA KESEHATAN DALAM MEMBERIKAN KONSELING KB DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PADA WANITA PASANGAN USIA SUBUR DI PUSKESMAS RAFAE KABUPATEN BELU NUSA TENGGARA TIMUR

Please download to get full document.

View again

of 9
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Similar Documents
Information Report
Category:

Taxes & Accounting

Published:

Views: 5 | Pages: 9

Extension: PDF | Download: 0

Share
Description
Family Planning program aimed to manage pregnancy. The role of health care provider support government family planning program. One of the roles of health care provider is a family planning counselor. The purpose of this study was to determine the
Tags
Transcript
  1 HUBUNGAN PERAN TENAGA KESEHATAN DALAM MEMBERIKAN KONSELING KB DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PADA WANITA PASANGAN USIA SUBUR DI PUSKESMAS RAFAE KABUPATEN BELU NUSA TENGGARA TIMUR Eurusia Ita Bria Program Study S1 Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo Surabaya 60115 Telp. (031)5913752, 5913754, Fax. (031)5913257 Email: euro51a@yahoo.com  ABSTRACT Family Planning program aimed to manage pregnancy. The role of health care provider support government family planning program. One of the roles of health care provider is a family  planning counselor. The purpose of this study was to determine the role of health workers in  providing family planning counseling with the use of contraceptive device in women. The study design was descriptive cross sectional analytic approach. The independent variable in this study was the role of health workers in providing family planning counseling. The dependent variable in this study was the use of contraception in women of childbearing age couples. The samples were 56 women of reproductive age couples in health care center Rafae (Puskesmas) based on inclusion criteria. Questionnaires given to respondent and assisted by the researcher. Based on the results of statistical tests in the study correlation Spearman Rho role of health workers in providing family planning counseling with the use of contraceptives p=0.009 (α<0.05) means that H1 was accepted that there was a relatio nship between the role of health workers in providing family planning counseling with the use of contraception in women at Puskesmas Rafae. There was also found r= 0.348, which means the level of correlation between the variables role of health workers in providing counseling of family planning with the use of contraception in women have low cohesion. Most of the respondents had a negative perception of the role of health workers in  providing family planning counseling. There were many choices of contraception but most of the respondents in puskesmas Rafae only used hormonal contraception methods. The low correlation  between the role of health workers in providing counseling to the use of contraceptives indicated of other factors to change the decision of using contraceptives both of the types or the mounts. Keywords : family planning, counselors, counseling, contraception, women PENDAHULUAN Menurut Undang-undang No. 10 tahun 1992, KB merupakan upaya  peningkatan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera. Keluarga Berencana (  family  planning/planned parenthood  ) merupakan  2 suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi (Sulistyawati, 2013). Tujuan umum program KB adalah membentuk keluaga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Program KB mempunyai kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas penduduk. Program ini memerlukan tenaga kesehatan yang kompeten dan mampu bekerja secara maksimal dalam proses mensukseskan keluarga kecil bahagia sejahtera. Sasarannya adalah keluarga produktif dengan fokus utama adalah wanita pasangan usia subur. Wanita pasangan usia subur adalah wanita sudah menikah yang keadaan organ reproduksinya berfungsi dengan baik,  berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun yang sudah menstruasi dan belum menopause. Banyak petugas yang memfasilitasi terlaksananya program nasional ini, diantaranya adalah perawat dan  bidan. Peran tenaga kesehatan dalam merealisasikan program KB di tengah masyarakat salah satunya adalah sebagai konselor. Ketika tenaga kesehatan berperan sebagai konselor diharapkan membimbing wanita pasangan usia subur untuk mengetahui tentang KB dan membantu wanita pasangan usia subur untuk memutuskan alat kontrasepsi yang akan digunakan. Penggunaan alat kontrasepsi  pada wanita pasangan usia subur sangat  penting karena dapat mengatur angka kelahiran dan jumlah anak dalam keluarga, membantu pemerintah mengurangi resiko ledakan penduduk, serta menjaga kesehatan wanita usia subur (Syaifuddin, 2006). Sikap petugas kesehatan dalam melakukan konseling KB (Yulifah, 2009): memperlakukan klien dengan baik, interaksi antara petugas dan klien, memberikan informasi yang baik dan benar kepada klien, menghindari pemberian informasi yang  berlebihan, membahas metode yang diingini klien,membantu klien untuk mengerti dan mengingat. Di puskesmas Rafae, tenaga kesehatan telah berupaya memberikan  pendidikan kesehatan dan konseling kepada wanita pasangan usia subur secara informal tetapi belum pernah dievaluasi dan belum ada penelitian sebelumnya. Wanita pasangan usia subur lebih mudah mendapat informasi tentang KB dari tetangga. Program KB gratis di puskesmas Rafae sudah ada. Kenyataan ini tidak lepas dari peran tenaga kesehatan sebagai konselor. Jumlah tenaga kesehatan di puskesmas Rafae sudah memadai, kontrasepsi tersedia, jarak  puskesmas terjangkau dan sudah ada tenaga kesehatan yang mengikuti pelatihan konseling KB, tetapi masyarakat desa Rafae  belum sadar untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di puskesmas tentang  penggunaan alat kontrasepsi. Selain wanita  pasangan usia subur tidak sadar untuk menggunakan alat kontrasepsi, dari  puskesmas tidak ada target penggunaan KB sehingga kenyataan yang terjadi di  puskesmas Rafae, sebagian besar wanita  pasangan usia subur jumlah anak mereka lebih dari 2 orang, jarak kehamilan dekat, masih ada yang belum mengetahui tentang KB dan sebagian besar belum menggunakan alat kontrasepsi. Tenaga kesehatan mempunyai peran sebagai konselor. Seorang konselor melakukan konseling kepada wanita  pasangan usia subur agar perilaku wanita usia subur dapat berubah yaitu wanita  pasangan usia subur mengetahui tentang KB dan menggunakan alat kontrasepsi. Green (1980) dalam Notoatmodjo, 2010 mengemukakan adanya dua determinan masalah kesehatan, yaitu behavioral factor   (faktor perilaku) dan non behavioral factor   (faktor non perilaku). Faktor perilaku  3 kesehatan wanita pasangan usia subur dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu, faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat. Ketiga faktor tersebut akan menjadi stimulus bagi wanita usia subur untuk merubah perilaku mereka dalam menggunakan alat kontrasepsi. BAHAN DAN METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian Cross Sectional  . Populasi dalam penelitian ini adalah semua wanita pasangan usia subur di Desa Rafae berjumlah 187 orang. Untuk memdapatkan jumlah sampel, peneliti menggunakan rumus n= 30% x N (Arikunto, 2006), sehinggga didapatkan  jumlah sampel sebanyak 56 orang. Dalam  pemilihan sampel peneliti menetapkan kriteria sampel sebagai berikut: Kriteria Inklusi: 1)   Wanita usia subur yang berusia 15-49 tahun. 2)   Wanita usia subur yang tinggal dengan suaminya. Bahwa jumlah wanita pasangan usia subur yang masuk pada kriteria inklusi pada bulan Desember 2013 adalah sebanyak 56 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam  penelitian ini adalah  purposive sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Peran Tenaga Kesehatan. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah  penggunaan alat kontrasepsi pada wanita  pasangan usia subur. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Untuk variabel independen menggunakan kuesioner peran tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB di kembangkan oleh peneliti dari buku Indrawati tahun 2013 yang  berjudul komunikasi kebidanan, untuk skor 1 bernilai tidak pernah, skor 2 bernilai kadang-kadang, skor 3 bernilai sering dan skor 4 bernilai sangat sering. Kriteria skor Positif = > mean T (50) dan  Negatif = ≤ mean T (50). Untuk variabel dependen skor 1 bernilai menggunakan alat kontrasepsi dan skor 0 bernilai tidak menggunakan alat kontrasepsi. Data yang diperoleh akan di analisis dengan uji Spearman Rho Corelation dengan taraf signifikasi α ≤ 0,05 . Jika α ≤ 0,05 maka hipotesis diterima, jika α ≥ 0,05 maka hipotesis ditolak.   HASIL Identifikasi peran tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB pada wanita  pasangan usia subur di Desa Rafae Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur. Gambar 1. Diagram Distribusi peran tenaga kesehatan Berdasarkan persepsi Wanita Pasangan Usia Subur Di Puskesmas Rafae, Kabupaten Belu, Januari 2014. Pada gambar 1 menjelaskan bahwa sebagian  besar wanita pasangan usia subur mempunyai persepsi negative terhadap  peran tenaga kesehatan yaitu 30 orang (54%). 40%50%60%PositifNegatif   4 Identifikasi penggunaan alat kontrasepsi  pada wanita pasangan usia subur di Desa Rafae Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur. Gambar 2. Diagram Distribusi penggunaan alat kontrasepsi pada Wanita Pasangan Usia Subur Di Puskesmas Rafae, Kabupaten Belu, Januari 2014. Pada gambar 2 menunjukan bahwa bahwa wanita pasangan usia subur menggunakan alat kontrasepsi yaitu 37 orang (66%) dan yang tidak menggunakan alat kontrasepsi yaitu 19 orang (34%). Hubungan peran tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB dengan Penggunaan alat kontrasepsi pada wanita  pasangan usia subur di puskesmas Rafae. Tabel 1. Hubungan Pengetahuan Tentang Kesehatan dalam memberikan konseling KB dengan penggunaan alat kontrasepsi pada wanita pasangan usia subur di Puskesmas Rafae, Januari 2014. Persepsi peran tenaga kesehatan dalam memberik an konseling KB Penggunaan alat kontrasepsi Total % Tidak menggunakan alat kontrasepsi Menggunakan alat kontrasepsi Negatif 9 (16 %) 21 (38%) 30 54 Positif 10 (18%) 16 (28 %) 26 46 Total 19 35 56 100  Spearman Rho p = 0,009, koefisien korelasi (r)= 0,348 Pada tabel 1. memberi gambaran bahwa dari 56 responden yang memiliki persepsi negatif terhadap peran tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB tetapi menggunakan kontrasepsi sebanyak 21 orang (38%), wanita pasangan usia subur yang berpersepsi negatif dan tidak menggunakan alat kontrasepsi 9 orang (16%), wanita pasangan usia subur yang  berpersepsi positif dan menggunakan alat kontrasepsi sebanyak 16 orang (28%) dan wanita pasangan usia subur yang berpersepsi  positif tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi sebanyak 10 orang (18%). Selanjutnya dari hasil uji Spearman’s rho  didapatkan nilai p = 0,009 yang lebih kecil dari α =  0,05 sehingga H 1  diterima yang  berarti ada hubungan antara peran tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB dengan penggunaan alat kontrasepsi pada wanita pasangan usia subur di puskesmas Rafae. Juga didapatkan koefisien korelasi r = 0,348 yang berarti tingkat hubungan antara variabel peran tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB dengan  penggunaan alat kontrasepsi pada wanita  pasangan usia subur memiliki keeratan yang 0%20%40%60%80%MenggunakanAlatKontrasepsiTidakMenggunakanAlatKontrasepsi  5 rendah. Koefisien korelasi yang bertanda  positif (+) berarti bahwa semakin negatif sikap tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB maka semakin berkurang  pengguna alat kontrasepsi. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden berpersepsi negatif terhadap peran tenaga kesehatan dalam memberikan koseling KB yaitu 30 orang (54%). Berdasarkan Hasil penelitian Imroni, et.al (2009), yang berjudul Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan alat kontrasepsi di desa Parit kecamatan Indralaya Utara kabupaten Ogan Ilir, menunjukkan persepsi responden terhadap  peran tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB dengan penggunaan alat kontrasepsi negatif. Hal tersebut dikarenakan konselor tidak menggali masalah kesehatan klien atau masalah tentang KB. Indrawati (2003), menjelaskan ada 3 tahap dalam melakukan konseling KB yaitu membina hubungan baik dengan ibu,  pengambilan keputusan dan pelayanan KB, serta tindak lanjut pertemuan. Pada  penelitian ini, peneliti menggunakan 3 tahap tersebut dalam pembuatan kuesioner. Hasil  penelitian ini menunjukan bahwa pada tahap  pertama yaitu membina hubungan baik dengan wanita pasangan usia subur, konselor sudah melaksanakan dengan baik dan ramah, dilihat dari sebagian besar responden menjawab sering. Pada tahap ketiga yaitu tindak lanjut pertemuan, konselor sudah melakukan dengan baik dan sesuai dengan teori. Namun pada tahap kedua yaitu pengambilan keputusan dan  pelayanan KB, sebagian besar responden menjawab tidak pernah pada beberapa  pernyataan yaitu: tenaga kesehatan menggunakan alat bantu (pamflet/leaflet) dalam menjelaskan tentang KB, tenaga kesehatan mengenalkan semua alat kontrasepsi pada wanita pasangan usia subur, tenaga kesehatan melibatkan  pasangan calon akseptor untuk memutuskan  jenis kontrasepsi yang akan digunakan dan yang paling banyak jawaban tidak pernah  pada pernyataan tenaga kesehatan memberikan surat persetujuan untuk ditandatangani akseptor sebelum melayani KB. Berdasarkan teori diatas maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa persepsi wanita pasangan usia subur terhadap peran tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB negatif karena masyarakat merasa tenaga kesehatan tidak pernah menggali masalah kesehatan klien atau masalah tentang KB. Selain itu, masyarakat  juga menganggap tenaga kesehatan tidak  pernah membantu memecah masalah kesehatan pasien khususnya dalam ber KB. Proses pemeriksaan kesehatan yang singkat membuat waktu interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien menjadi sempit. Selain itu, tidak adanya inisiatif antara perawat maupun pasien untuk melakukan konseling di luar puskesmas atau di luar jam kerja tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan lebih sering membiarkan klien memecahkan masalahnya sendiri sehingga klien cenderung enggan mendiskusikan  permasalahannya kepada tenaga kesehatan. Sesuai dengan data demografi dimana mayoritas pekerjaan wanita pasangan usia subur adalah petani maka mereka lebih  banyak menghabiskan waktu di kebun. Dilihat dari tingkat pendidikan yang sebagian besar adalah lulusan SD dimana tingkat pemahaman mereka kurang, maka  peran tenaga kesehatan dalam memberikan konseling KB sangat dibutuhkan. Tenaga kesehatan harus memberikan konseling menggunakan alat bantu sehingga mempermudah wanita pasangan usia subur untuk cepat mengerti dan mengingat
Recommended
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x