Pemanfaatan Hutan Mangrove Sebagai Penyimpan Karbon_2

Please download to get full document.

View again

of 6
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Similar Documents
Information Report
Category:

Documents

Published:

Views: 3 | Pages: 6

Extension: PDF | Download: 0

Share
Description
Just share another information
Tags
Transcript
  1 Pemanfaatan Hutan Mangrove Sebagai Penyimpan Karbon Hery Purnobasuki Dept. Biologi, FST Universitas Airlangga Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik. Hutan Indonesia merupakan salah satu hutan yang memiliki peranan penting dalam menjaga ekosistem lingkungan dunia. Hutan Indonesia terdiri atas  berbagai jenis hutan. Salah satunya adalah hutan bakau atau hutan mangrove. Luas hutan mangrove di dunia hanya 0,4% dari luas hutan dunia. Akan tetapi hutan mangrove memiliki peran besar sebagai  penyerap dan penyimpan karbon yakni sekitar lebih dari 4 gigaton C/tahun sampai 112 gigaton C/tahun. Sayangnya, belum semua penduduk menyadari akan  pentingnya fungsi hutan mangrove tersebut. Indonesia yang memiliki 75% dari total hutan mangrove di Asia Tenggara masih belum bisa mengoptimalkan fungsi hutan mangrove. Sebaliknya, hutan mangrove mengalami degradasi secara sistematis akibat kepentingan manusia. Terjadi alih fungsi hutan mangrove sehingga berdampak pada  penurunan kemampuan penyerapan karbon di atmosfer dan terurainya karbon tersimpan melalui proses dekomposisi ke atmosfer. Peran ekosistem mangrove sebagai absorber   dan tempat reservoir   CO 2  berubah menjadi penyumbang emisi CO 2 . kondisi tersebut turut serta mempengaruhi perubahan iklim di dunia. Potensi penyimpanan karbon pada substrat lumpur mangrove sangatlah besar. Oleh karena itu estimasi penyimpanan karbon pada substrat lumpur mangrove dapat dijadikan acuan dasar dalam  penilaian manfaat ekonomis mangrove dalam bentuk komoditi jasa lingkungan C- Sequestration . Pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan cocok untuk  penyerapan dan penyimpanan karbon. Selain melindungi daerah pesisir dari abrasi, tanaman mangrove mampu menyerap emisi yang terlepas dari lautan dan udara. Penyerapan emisi gas buang menjadi maksimal karena mangrove memiliki sistem akar napas dan keunikan struktur tumbuhan pantai. Unsur karbon menjadi penting dalam kehidupan manusia, dalam keseharian setiap kali proses pernapasan, manusia menyumbang pelepasan karbon di alam dalam bentuk karbondioksida (CO 2 ),  penebangan pohon, pembakaran, aktivitas industri dan kendaraan bermotor juga menyumbang pelepasan karbon di alam. Buletin PSL Universitas Surabaya 28 (2012): 3-5    2 Pemberi konstribusi utama dalam dekade terakhir ini berasal dari pembakaran bahan  bakar fosil meliputi minyak pelumas, gas dan bahan bakar untuk kendaraan  bermotor, industri dan kekuatan tanaman. Konstribusi dari sektor tersebut diperkirakan sekitar 65 % dari total emisi diseluruh dunia. Selain itu, 14% berasal dari aktivitas pertanian, 18% kerusakan hutan, aktivitas domestik dan penguraian sampah. Sebagian karbon dalam bentuk CO 2  dimanfaatkan tumbuhan untuk proses fotosintesis, sebagian lainnya ada dalam  bentuk gas di atmosfer yang jika  jumlahnya terlalu banyak akan merugikan kehidupan organisme. Untuk itu  penambatan dan juga penyimpanan karbon oleh alam dalam hal ini tumbuhan menjadi sangat penting. Salah satu akibat kelebihan jumlah karbon di atmosfer adalah terganggunya keseimbangan energi antara bumi dan atmosfer, sehingga memicu terjadinya  perubahan iklim global. Terjadinya  peningkatan unsur karbon dalam bentuk gas-gas asam arang (CO 2 ), gas buang knalpot (CO), metana (CH 4 ) serta gas rumah kaca dalam jumlah yang mengkhawatirkan telah memicu  pemanasan global. Dinamika karbon di alam dapat dijelaskan secara sederhana dengaan siklus karbon. Siklus karbon merupakan siklus  biogeokimia yang mencakup pertukaran atau perpindahan karbon dalam biosfer,  pedosfer, geosfer, hidrosfer dan atmosfir  bumi. Siklus karbon sesungguhnya merupakan suatu proses yang rumit dan setiap proses saling mempengaruhi. Proses penimbunan karbon (C) dalam tubuh tumbuhan hidup dinamakan  proses sekuestrasi ( C-sequestration ). Dengan demikian mengukur jumlah C yang disimpan dalam tubuh tanaman hidup (biomassa) pada suatu lahan dapat menggambarkan CO 2  di atmosfer yang diserap oleh tanaman. Sedangkan  pengukuran C yang masih tersimpan dalam bagian tumbuhan yang telah mati (nekromassa) secara tidak langsung menggambarkan CO 2  yang tidak dilepaskan ke udara melalui pembakaran. Tumbuhan akan mengurangi karbon di atmosfer melalui proses fotosintesis dan menyimpannya dalam  jaringan tumbuhan. Sampai waktunya karbon tersebut tersikluskan kembali ke atmosfer, karbon tersebut menempati salah satu dari sejumlah kantong atau kolam karbon. Semua komponen penyusun vegetasi baik pohon, semak, liana, dan epifit merupakan bagian dari biomassa atas  permukaan tanah. Di bawah permukaan tanah, akar tumbuhan juga menyimpan karbon selain tanah itu sendiri. Pada tanah gambut, jumlah simpanan karbon mungkin lebih besar dibandingkan simpanan karbon yang ada di atas permukaan. Karbon juga  3 tersimpan pada bahan orgnik mati dan  produk-produk berbasis biomassa seperti kayu baik ketika masih di permukaan maupun sudah berada di tempat  penimbunan. Karbon dapat tersimpan dalam kantong atau kolam (  pool  ) karbon dalam periode yang lama atau hanya sebentar. Peningkatan jumlah karbon yang tersimpan dalam kantung karbon ini mewakili jumlah karbon yang terserap dari atmosfer. Dalam inventarisasi karbon hutan, kantung karbon yang diperhitungkan setidakny ada 4 kantong karbon, yaitu: biomassa atas permukaan ( above ground  ), biomassa bawah  permukaan, bahan organik mati dan karbon organik tanah. Hutan juga melepaskan CO 2  ke udara lewat respirasi dan dekomposisi (pelapukan) seresah, namun pelepasannya terjadi secara  bertahap, tidak sebesar bila ada  pembakaran yang melepaskan CO2 sekaligus dalam jumlah yang besar. Bila hutan diubah fungsinya menjadi lahan-lahan pertanian atau perkebunan atau ladang penggembalaan atau tambak maka karbon karbon tersimpan akan terus  berkurang. Terkait dengan perubahan iklim. Maka untuk mengurangi dampak  perubahan iklim, perlu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penyerapan karbon dan menurunkan emisi karbon ke udara. Penurunan emisi karbon dapat dilakukan dengan: (a) mempertahankan cadangan karbon yang telah ada dengan: mengelola hutan dengan baik, mengendalikan deforestasi, menerapkan  praktek silvikultur yang baik, mencegah degradasi hutan dan lahan gambut, serta memperbaiki pengelolaan cadangan bahan organik tanah, (b) meningkatkan cadangan karbon melalui penanaman tanaman  berkayu dan (c) mengganti bahan bakar fosil dengan bahan bakar yang dapat diperbarui secara langsung maupun tidak langsung, radiasi matahari, atau aktivitas  panas bumi. Sejalan dengan penjelasan di atas maka hutan mangrove yang telah banyak diteliti ternyata potensi besar sebagai  penyimpan mangrove yang tangguh dibandingkan hutan terestrial (daratan) lainnya. Peranan Hutan sebagai penyerap karbon mulai menjadi sorotan pada saat  bumi dihadapkan pada persoalan efek rumah kaca, berupa kecenderungan  peningkatan suhu udara atau biasa disebut sebagai pemanasan global. Menurut ilmuan, hutan dapat menyerap karbon karena hutan adalah tempat sekumpulan pohon yang memiliki aktifitas biologisnya seperti fotosintesis dan respirasi. Dalam fotosintesis pohon (tanaman) menyerap CO 2  dan H 2 O dibantu dengan sinar matahari diubah menjadi glukosa yang merupakan sumber energi  4 (sebelumnya diubah dulu melalui proses respirasi) tanaman tersebut dan juga menghasilkan H 2 O dan O 2  yang merupakan suatu unsur yang dibutuhkan oleh oranisme untuk melangsungkan kehidupan (bernapas). Sehingga, hanya dengan mengetahui dan memahami hal tersebut kita harus sadar bahwa hutan sangat dibutuhkan manusia untuk menyerap carbon yang berlebih dalam atmosfer. Demikian halnya dengan keberadaan hutan mangrove sebagai  penyerap karbon, Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C0 2 ) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem,  bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C0 2 ). Akan tetapi hutan mangrove justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan mangrove lebih berfungsi sebagai  penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon. Tumbuhan mangrove memiliki banyak daun sehingga lebih  berpotensi menyerap karbon lebih banyak dari tumbuhan lain. Telah dilakukan penelitian bahwa satu hektare hutan mangrove menyerap 110 kilogram karbon dan sepertiganya dilepaskan berupa endapan organik di lumpur. Di hutan mangrove yang dikategorikan sebagai ekosistem lahan  basah, penyimpanan karbon mencapai 800-1.200 ton per hektar. Pelepasan emisi ke udara pada hutan mangrove lebih kecil daripada hutan di daratan, hal ini karena  pembusukan serasah tanaman aquatic tidak melepaskan karbon ke udara. Adapun tanaman hutan tropis yang mati melepaskan sekitar 50 persen karbonnya ke udara. Dengan kemampuan mangrove dalam menyimpan karbon, maka  peningkatan emisi karbon di alam tentu dapat lebih dikurangi. Penebangan hutan mangrove menyebabkan pembebasan karbon, endapan ini akan tetap terisolasi selama ribuan tahun. Karena itu, perubahan mangrove menjadi tambak udang, seperti yang dilakukan sementara orang sekarang ini, akan mempercepat pelepasan karbon ke atmosfer pula. Maka, dengan mencegah  penggundulan hutan, negara-negara  berkembang dapat secara efektif mereduksi emisi dan menurunkan  pemanasan global. Evapotranspirasi hutan mangrove mampu menjaga ketembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga. Dalam konferensi tingkat dunia yang dilaksanakan di Bali bulan Desember 2007, menempatkan hutan mangrove salah satu faktor yang dapat memberikan kontribusi dalam menekan perubahan iklim. Kaitannya dengan perubahan iklim
Recommended
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x