assegaf_wienty_unsri-1.pdf

of 10
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Information Report
Category:

Documents

Published:

Views: 5 | Pages: 10

Extension: PDF | Download: 0

Share
Description
ISSN 2088-0804 POLA PERKEMBANGAN PERMUKIMAN KAMPUNG ASSEGAF PALEMBANG Wienty Triyuly Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Jl. Raya Palembang-Prabumulih km 32 Indralaya OI 30662 Email : bunda_wienty@yahoo.com Abstrak Permukiman Kampung Assegaf merupakan permukian tepian Sungai Musi yang dihuni oleh masyarakat ketur
Tags
Transcript
  ISSN 2088-0804 Berkala Teknik Vol.3 No.2 September 2013 508 POLA PERKEMBANGAN PERMUKIMAN KAMPUNG ASSEGAF PALEMBANG Wienty Triyuly Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Jl. Raya Palembang-Prabumulih km 32 Indralaya OI 30662 Email : bunda_wienty@yahoo.com Abstrak Permukiman Kampung Assegaf merupakan permukian tepian Sungai Musi yang dihuni oleh masyarakat keturunan Arab. Permukiman Kampung Assegaf masih memegang aturan nilai adat dan budaya yang berhubungan dengan nilai agama secara khusus. Permukiman Kampung Assegaf ini mengalami perkembangan sehingga terbentuk permukiman baru yang masih mempertahankan keunikan permukiman Kampung Assegaf sebagai permukiman keturunan Arab. Perkembangan permukiman Kampung Assegaf dipengaruhi oleh keberadaan Sungai Musi dan pabrik es yang menjadi mata pencaharian masyarakat. Perkembangan permukiman dimulai dengan adanya perkembangan rumah besar yang dihuni oleh Habib Alwi bin Syech Assegaf yang berkembang ke arah barat dan timur sepanjang tepian sungai kemudian  berkembang ke arah tengah dengan orientasi pada jalan dan sungai kecil lalu terjadi  perkembangan ke arah jalan besar. Perkembangan permukiman ini membentuk suatu  pola perkembangan permukiman yang dapat dikelompokkan menjadi pola memusat dengan bentuk memanjang dengan garis sungai, pola menyebar dengan bentuk memanjang dengan garis jalan dan sungai, dan pola memusat dengan bentuk memanjang dengan garis jalan.  Kata kunci : Kampung Assegaf, Arab, pola permukiman, perkembangan PENDAHULUAN Perkampungan Arab di Kota Palembang dimulai sejak pemerintah Kesultanan Palembang memberikan kebebasan bagi masyarakat Arab untuk tinggal di dataran atas jasa masyarakat Arab meningkatkan perekonomian di Kesultanan Palembang. Sejak saat itulah masyarakat Arab mulai membangun kelompok-kelompok kecil yang berisikan anggota keluarga dan keturunan masyarakat Arab hingga membentuk sebuah kampung Arab. Pola penyebaran kampung Arab di kota Palembang lebih berorientasi terhadap sungai Musi baik di daerah Seberang Ilir maupun daerah Seberang Ulu Kota Palembang. Kampung Arab di kota Palembang antara lain berada di Lorong Asia dan Kampung Sungai Bayas, Kelurahan Kotabatu, Kecamatan Ilir Timur 1; Lorong Sungai Lumpur di Kelurahan 9-10 Ulu, Lorong BBC di Kelurahan 12 Ulu, Lorong Almunawar di Kelurahan 13 Ulu, Lorong Al-Hadad, Lorong Al-Habsy dan Lorong Al-Kaaf di Kelurahan 14 Ulu, dan Kompleks Assegaf di Kelurahan 16 Ulu (http://www.wikimu.com/news/DisplayNews.aspx?id=19442). Salah satu kampung Arab di kota Palembang yang memiliki keistimewaan adalah Kampung Assegaf. Kampung Assegaf memiliki sebuah pabrik dan pengolahan air minum sehingga  permukiman Kampung Assegaf lebih mandiri. Kampung Assegaf merupakan kawasan  ISSN 2088-0804 Berkala Teknik Vol.3 No.2 September 2013 509  permukiman dan industri yang memiliki peran penting pada masa penjajahan Belanda dan masa Kesultanan Palembang. Hal ini dikarenakan peran penting masyarakat Arab di kampung ini yang telah mengangkat nama Palembang baik dibidang ekonomi maupun  penyebaran agama Islam. Bahkan peran perekonomian tersebut tetap berjalan hingga saat ini. Selain peran tersebut, Kampung Assegaf memiliki potensi pada bangunan-bangunan tua yang memiliki keunikan perpaduan arsitektur lokal dan arsitektur kolonial Belanda menambah nilai sebagai aset wisaya budaya dan sejarah. Perkembangan bangunan-bangunan yang ada di Kampung Assegaf ini tidak dibangun dalam waktu yang bersamaan tetapi dilakukan secara bertahap dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan jaman. Berdasarkan kondisi diatas maka dibutuhkan suatu  penelitian yang membahas mengenai perkembangan pola permukiman Kampung Assegaf sehingga akan didapatkan suatu pola permukiman tradisional tepian sungai di Kota Palembang. Penelitian ini akan membahas pola perkembangan tersebut. TINJAUAN PUSTAKA Permukiman merupakan suatu tempat bermukim yang terbentuk karena adanya ikatan sosial, aturan yang berhubungan dengan budaya dan religi serta adanya kegiatan yang  bersifat ekonomi (Lowi dalam Citrayati, 2008). Suatu permukiman dapat disebut sebagai  permukiman tradisional jika permukiman tersebut masih memegang aturan nilai adat dan  budaya yang berhubungan dengan nilai kepercayaan atau agama secara khusus atau unik  pada suatu masyarakat tertentu dan berakar dari tempat tertentu pula di luar determinasi sejarah (Sasongko, 2005). Struktur ruang permukiman tradisonal dapat diketahui dengan cara identifikasi tempat, lintasan, batas sebagai komponen utama kemudian diorientasikan dengan hirarki dan jaringan atau lintasan dalam suatu lingkungan binaan secara fisik dan non fisik (Sasongko, 2005). Permukiman tradisional akan mengalami perkembangan dengan bentukan pola  perkembangan permukiman yang menyebar dan mengumpul menyesuaikan dengan kondisi  permukiman (Wiriatmadja,1981). Perkembangan dengan cara menyebar terjadi karena  permukiman tersebut baru dibuka sehingga permukiman belum memiliki akses pengarah sedangkan perkembangan permukiman dengan cara mengumpul terjadi karena telah adanya akses seperti jalan yang menjadi arahan masyarakat untuk mengembangkan permukiman. Perkembangan permukiman ini akan menyebabkan terbentuknya suatu pola permukiman tradisional yang terdiri atas pola permukiman bentuk memanjang pada garis sungai, jalan, dan garis pantai, pola permukiman bentuk melingkar, pola permukiman bentuk persegi  panjang dan pola permukiman bentuk kubus. Pola perkembangan permukiman ditunjang adanya pola sirkulasi dalam permukiman yang menjadi faktor penentuan perkembangan  permukiman selanjutnya (Dwi Ari & Antariksa, 2005). Perkembangan pola permukiman tradisional akan berpengaruh terhadap perkembangan pola sirkulasi dan orientasi bangunan. Pola konfigurasi yang dapat terjadi adalah pola linier dengan jalan lurus yang menjadi unsur pengorganisir utama dapat berbentuk lengkungan/  berbelok, memotong jalan lain, bercabang, dan atau berputar-putar, pola radial yang terdiri dari jalan-jalan lurus yang berkembang dari atau berhenti pada suatu titik pusat, titik  bersama, pola sirkulasi spiral yang berbentuk jalan tunggal menerus yang berasal dari titik  pusat, mengelilingi pusat dengan jarak yang berubah, pola sirkulasi grid yang terdiri atas dua  pasang jalan sejajar yang saling berpotongan pada jarak yang sama dan menciptakan kawasan-kawasan segi empat, pola sirkulasi jaringan yang terdiri atas jalan-jalan yang  ISSN 2088-0804 Berkala Teknik Vol.3 No.2 September 2013 510 menghubungkan titik-titik tertentu dalam ruang, serta pola sirkulasi komposit (gabungan) yang berupa kombinasi dari seluruh pola jalur (FDK Ching, 2000) METODELOGI Penelitian dilakukan di permukiman Kampung Assegaf yang terletak di tepian Sungai Musi dengan obyek utama adalah perkembangan bangunan asli Kampung Assegaf dan bangunan di sekitarnya. Pendekatan dilakukan dengan analisis kualitatif dengan metode deskriptif dan eksploratif yang menjelaskan faktor yang mempengaruhi perkembangan permukiman Kampung Assegaf dan pola perkembangan permukiman Kampung Assegaf. PEMBAHASAN Lokasi Permukiman Kampung Arab Assegaf terkenal dengan komplek PT. Alwi Assegaf yang  berlokasi di kawasan Seberang Ulu II, di jalan Jend. Ahmad Yani dengan batas wilayah : 1.   Sebelah utara berbatasan dengan Sungai Musi dan Pabrik Pupuk Sriwijaya (PUSRI) 2.   Sebelah selatan berbatasan dengan Jl. Jend Ahmad Yani 3.   Sebelah timur berbatasan dengan daerah Tangga Takat 4.   Sebelah barat berbatasan dengan permukiman penduduk Lokasi permukiman Kampung Arab Assegaf yang dekat dengan sungai dan jalan raya ini menjadikan Kampung Assegaf sebagai kawasan yang sangat strategis. Permukiman Kampung Arab Assegaf ini hanya dihuni khusus keluarga atau keturunan Assegaf, serta  pegawai-pegawai pabrik PT. Alwi Assegaf. Gambar 1. Lokasi Kampung Assegaf ( Sumber: Peta Bappeda Kota Palembang dan data diolah)  ISSN 2088-0804 Berkala Teknik Vol.3 No.2 September 2013 511 Pola Perkembangan Permukiman Masyarakat pendatang yang datang pertama kali ke Palembang tidak dapat menempati wilayah daratan termasuk masyarakat pendatang yang berasal dari Arab. Kemudian terjadi  perkembangan dengan diberikannya kebebasan masyarakat untuk tinggal di daratan. Masyarakat Arab mulai membangun permukiman di sekitar tepian Sungai Musi, salah satunya adalah Habib Alwi bin Syech Assegaf yang mulai membangun rumah pertama (rumah besar) di sekitar kawasan Seberang Ulu II dan kemudian berkembang menjadi sebuah kampung mandiri yang dikenal dengan permukiman Kampung Assegaf. Seiring dengan bertambahnya jumlah keturunan Habib Alwi bin Syech Assegaf, maka  bertambah pula jumlah rumah di Kampung Assegaf sehingga membentuk suatu permukiman tradisional. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan orientasi rumah besar, yaitu berorientasi ke arah sungai. Rumah-rumah tersebut dibangun saling berdekatan, bahkan ada yang saling  berhubungan pada bagian belakang rumah. Rumah yang berhubungan pada bagian belakang rumahnya biasanya digunakan oleh dua keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan dekat. Selain membangun rumah bagi keturunannya, Habib Alwi bin Syech Assegaf juga membangun fasilitas untuk menunjang kebutuhan mereka yaitu berupa mushola, madrasah, water treatment   dan pabrik untuk menunjang perekonomian keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Pada awal perkembangan permukiman Kampung Assegaf, bangunan rumah besar, rumah rumah kayu dan pabrik dibangun menghadap kearah sungai.Permukiman Kampung Assegaf ini didirikan untuk keturunan Habib Alwi bin Syech Assegaf dan dilengkapi dengan sebuah  pabrik sebagai tempat usaha dan sistem pengolahan air dan listrik yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan Kampung Assegaf. Permukiman Kampung Assegaf memiliki pabrik  pengolahan air bersih yang juga berfungsi sebagai pabrik es untuk memenuhi kebutuhan air  bersih sehari-hari bagi Kampung Assegaf. Air bersih yang diperoleh langsung dari Sungai Musi diolah menggunakan sistem water treatment   di dalam pabrik. Air hasil pengolahan kemudian dipompa menuju penampungan air di atas atap pabrik ( roof tank)  . Air bersih yang terkumpul kemudian disalurkan kerumah-rumah dan fasilitas-fasilitas milik kampung untuk memenuhi kebutuhan air. Pada awalnya permukiman Kampung Assegaf ini memiliki generator listrik sendiri untuk memenuhi kebutuhan listik tetapi sejak tahun 1980an hingga sekarang Kampung Assegaf telah menggunakan PLN sebagai sumber listrik untuk  permukiman Kampung Assegaf. Gambar 2. Water treatment   dibelakang pabrik (Sumber: dokumentasi pribadi)  
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x